Fb. Ig. Tw.

Hai.. Warga Duniawi!
Jacqueline West dan Bob Morgan bekerja dalam satu tim untuk menciptakan skitar 1.000 atau lebih tampilan, yang dibutuhkan tiga karakter utama dalam film, yaitu Arrakis, Caladan dan Giedi Prime. Simak ulasan selengkapnya dibawah ini ya Warga Duniawi.

“Untuk riset, saya melihat film David Lean –‘Dr. Zhivago,’ ‘Lawrence of Arabia’ – [dan juga] ‘Fahrenheit 451,’” kata West. Dia mengatakan, terinspirasi juga dari mitologi Greek dan Roman karena dia berpikir ada sebuah koneksi disana dengan House Atreides dan House Karkonnen. “Ini sepertinya terlihat sama dengan level tragedi Greek dan Roman yang asli,” lanjut West. Inspirasi lain yang lebih luas termasuk karya art dai Goya, Giotto dan Caravaggio; pakaian dari orang-orang gurun seperti Bedouins dan Tuaregs; kartu tarot; fashion klasik dari Balenciaga; dan warna-warna dari bebatuan dan pasir di Jordan, dimana film terjadi. Tapi yang menjadi pusat perhatian dari film ini, yang sekarang ada pada the festival circuit, adalah “stillsuits.”

Film “Dune” ini dibuat berdasarkan novel tahun 1965 dari Frank Hebert, yang menceritakan kehidupan di planet padang pasir di Arrakis. “Inilah pekerjaan yang saya lakukan setelah saya melakukan riset secara umum,” kata West, menambahkan bahwa dia terkait dengan concept artist Keith Christensen [“Black Panther,” “The Batman”]. Ketika Villenueve melihat satu dari konsep-kosep yang “membuatnya tersentuh”, West membawanya ke Jose Fernandez di Ironhead Studios L.A., dimana sebuah prototype dibangun.

Bahkan mereka membawa semuanya ke Budapest, dimana syuting “Dune” dilakukan. Setiap pakaian berbicara – “Setiap masing-masing kostum harus disesuaikan dengan badan aktor, karena pergerakan dari tubuh pemeran mengaktifkan stillsuit dan membuatnya menjadi sistem penyulingan.” Dalam keduanya baik di buku dan filmnya, pakaian membawa wastewater dari manusia dan mengubahnya menjadi suatu gas,” dan selanjutnya difilter melalui selang pakaian sebagai pendingin dengan suatu regulator. Dan kita measangkan semua itu pada stillsuits.”

Tim membuat apa yang West sebut sebagai “micro-sandwich” dari fiber akrilik dan porous cottons yang bisa membuang air jauh dari tubuh dan menjaga agar aktor tetap merasa sejuk didalam setelan pakaian. “Ketika kita syuting di padang gurun Jordan, itu bekerja seperti Under Armour,” kata dia.

West mencatat bahwa “karena rancangan dari tube [selang] melalui berbagai lapisan dari micro-sumbersandwitch,” jadi pakaian ini terlihat bisa memompa air keluar. Tapi mereka membuat kostum ini sangat fleksibel. Setiap pakaian memakan waktu lebih dari dua minggu untuk dibuat di Budapest. “Ini merupakan usaha dari teamwork yang sangat keren,” kaya West. “Frank Herbert mengatakan hanya 15 mililiter air yang terbuang dari setiap orang yang mengenakan stillsuit, jadi kita harus menyakinkan kalau itu bekerja dengan baik.”

Setiap dunia mempunyai skema chrimatid masing-masing. Stillsuit tetap berwarna abu, seperti pada novel, dan bekerja seperti suatu kamuflase. Warna-warna dari bebatuan di gurun Jordanian menginspirasi West dalam membuat kostum untuk Arrakis, yang merupakan panet gurun pasir. Ketika head of locations, Petter Bardley, pergi ke Jordan, West bertanya kepadanya untuk membawa beberapa bebatuan dan pasir. “Disana ada seperti warna dari colar, warna mawar, warna peach dan berbagai gradasi warna beige.” Dia masih memiliki bebatuan dan pasir itu di kantor L.A.

West juga menggunakan kain kasa yang di celup [dyed] untuk Fremen. “Saya mengerjakan project dari kain kasa beberapa tahun lalu ketika saya menjadi fashion desainer untuk Barney. Dan saya ingat bagaimana kita dapat melihat badan dan bentuk tubuh seseorang, serta bagaimana dia bergerak. Dan saya pikir, kain kasa yang dibuat seperti warna pasir bisa bekerja. Saya mencelup [dyed] kainnya dengan warna-warna di gurun pasir.” Yang akhirnya menjadi palette warna mereka.

Morgan mencatat bahwa Villeneuve orang yang pandai berkolabosari, sering datang ke toko kostum untuk melihat apa yang terjadi. “Kita cukup beruntung secara literal berada di studio di Budapest. Dan dia bisa datang hanya dengan berjalan kai saja,” kata Morgan. “Dia bisa melihat bahan dan tekstur dari pakaian yang sedang dibuat.

Bagaimana menurut Warga Duniawi? Apakah setelah mengetahui proses kreatif dari desainer kostum ini kalian menjadi terinspirasi? Beritahu kami pendapat kalian dikolom komentar dibawah ya.
Sambil menunggu berita-berita terbaru, Warga Duniawi bisa membaca artikel yang lainnya disini.

Sumber: https://variety.com

Post tags:

Tinggalkan Balasan

You don't have permission to register
%d blogger menyukai ini: