Fb. Ig. Tw.

Hai.. Warga Duniawi!
Serial TV Korea Selatan sudah mendominasi preferensi penonton hampir di sebagian besar Asia di dekade terkahir ini. Tetapi telah diambil oleh suatu drama survival dengan high-concept “Squid Game” untuk menjadi K-drama pertama yang top rangking di Netflix U.S. Simak ulasan selengkapnya dibawah ini ya Warga Duniawi.

Sembilan part dari Netflix original ini menceritakan suatu grup orang-orang dari berbagai tingkat kehidupan yang menandatangani sesuatu persetujuan yang simpel, tapi ternyata menjadi sebuah perjanjian untuk permainan yang serius. Dikelola oleh host misterius dibalik topeng dan berbaju overall merah. Yang menarik perhatian para peserta adalah hasrat mereka sendiri yang diiming-imingi dengan hadiah uang tunai sebesar $40 miliar.

Dirilis pada 17 September, drama ini memasuki Top 10 pada 19 September dengan posisi No.8, naik ke peringkat No.2 ke esokan harinya, dan menjadi No.1 pada hari keempatnya pada tanggal 21 September. Di negaranya sendiri (Korea Selatan), “Squid Game” debut di posisi kedua dan mencapai posisi top keesokan harinya.

Writer-director serial ini, Hwang Dong-hyuk tentu senang dengan kesuksesan yang didapat serial ini. Tetapi proses pembuatan “Squid Game” memakan waktu lama dan membuat pikirannya stress, dan bukan sesuatu yang ingin dia ulang kembali -atau mungkin bukan di waktu dekat ini.-” kata Hwang. “Saya tidak pandai untuk bekerja dalam tim,” Hwang menyampaikan pada Variety, walaupun dia mengatakan dia mencoba untuk mengubahnya.

Sebelumnya dia menulis dan menyutradarai film kekerasan seksual “Silenced” pada tahun 2011, adaptasi dan menyutradarai historical actioner “The Fortress” tahun 2017. Keduanya sangat hits pada saat itu. Dan, diantara proses pembuatan kedua film itu, Hwang diberi credit sebagai final screenwriter dan director dari nostalgic musical comedy “Miss Granny.” Bukan hanya di Korea saja film ini ditetapkan sebagai film tersukses sepanjang masa, tapi telah dibuat kembali secara lokal di tujuh negara lainnya, termasuk Cina dan Jepang.

Jadi, Hwang diam-diam tersinggung karena dirinya dituduh meminjam terlalu banyak dari film bergenre survival “Hunger Games,” “Battle Royale” dan, khususnya, film Jepang 2014 “As the Gods Will” oleh shock-meister Miike Takashi.

Tapi Hwang menyadari kritik tersebut dengan mengacu pada catatannya untuk proyek tersebut, yang awalnya dibuat sebagai film feature pada tahun 2008. “Saya mengakui kalau saya sudah banyak terinspirasi dari komik dan animasi Jepang selama bertahun-tahun,” katanya. “Ketika saya memulai, finasial saya sedang biasa saja. Saya banyak menghabiskan waktu di cafe-cafe dengan membaca komik, termasuk ‘Battle Royale’ dan ‘Liar Game’. Saya membayangkan bagaimana rasanya jika saya sendiri mengambil bagian untuk bermain dalam game ini. Tapi saya menemukan game yang terlalu rumit, dan untuk pekerjaan saya sendiri berfokus pada penggunaan game anak-anak.”

Karakter yang simpel dan easily-relatable adalah dua elemen yang Hwang percaya bisa membantu “Squid Game” sukses di pasar luar.

“Saya ingin menulis cerita yang merupakan alegori atau fabel tentang masyarakat kapitalis modern, sesuatu yang bisa menyulut kompetisi yang ekstrim, yang terlihat seperti kompetisi ekstrim untuk hidup. Tapi saya menginginkannya, menggunakan karakter yang bisa kita temui di dunia nyata,” kata Hwang. “Sebagai sebuah game survival yang menghibur dan penuh drama. Game ini digambarkan dengan sangat simpel dan gampang dimengerti. Mengizinkan penonton untuk fokus pada karakter, daripada terganggu oleh bagaimana peraturan game yang ada.”

“Di hari-hari awal, saya meminum setengah botol soju agar ide kreatif saya terus mengalir. Saya tidak bisa melakukannya lagi sekarang,” kata Hwang. “Menulis ‘Squid Game’ lebih sulit dari biasanya untik saya karena ini sebuah serial, bukan film. Prosesnya memakan waktu enam bulan untuk menulis dan menulit kembali dua episode pertama. Selanjutnya saya berkonsultasi secara verbal dengan teman-teman, dan mengambil beberapa petunjuk untuk improvisasi melalui pandangan saya dari respon mereka.”

Hasilnya adalah keduanya universal dan tipikal Korea: well-written, well-packaged dan ditujukan dalam waktu ketika membuat empati untuk karakter utama, seorang pria pengangguran, Gi-hun, yang sudah dipecat, gagal dalam bisnisnya sendiri serta sekarang berjudi dengan uang yang dia curi dari ibunya. Background cerita yang disuguhkan adalah tipikal cerita Korea, dia harus keluar dai kesulitannya.

Sebaliknya mungin, Gi-hun diperankan oleh aktor tampan Lee Jung-jae (Along with The Gods, The Face Reader), yang dibuat untuk terlihat seperti sampah.

Itu bisa jadi metafor untuk industri entertainment negaranya, dimana Netflix sudah berkomitmen hampir $500 miliar pada tahun ini. Sementara itu Korea merasakan kesuksesan yang tidak terduga di musik, TV dan film. Festival film Busan bulan depan akan mengadakan seminar tentang krisis yang akan datang di sektor ini.”

Bagaimana menurut Warga Duniawi? Kalian sudah menonton serial Netflix ini belum? Meurut kalian apakah film ini pantas mendapatkan antusias dari penonton di seluruh dunia? Beritahu kami pendapat kalian dikolom komentar dibawah ya.
Sambil menunggu berita terbaru selanjutnya, kalian bisa membaca beberapa artikel lainnya disini.

Sumber: https://variety.com

Tinggalkan Balasan

You don't have permission to register
%d blogger menyukai ini: