Fb. Ig. Tw.

Hai.. Warga Duniawi!
Acara Green Game Jam for Youth memeberikan apresiasi kepada para mahasiwa di wilayah Asia Tenggara, yang menggeluti bidang video game. Banyak grup mahasiswa yang berkompetisi disini. Beberapa tim perwakilan Indonesia berhasil membawa kemenangan. Simak ulasan selengkapnya dibawah ini ya Warga Duniawi.

The Green Game Jam for Youth yang disusun oleh Tencent, melalui TiMi Studio Group (TiMi) dan Tencent Institute of Games, telah menunjukkan bakat yang kuat bagi pengembang game generasi berikutnya di Asia Tenggara.

Permainan ditutup, dengan penghargaan dan hadiah uang tunai diberikan untuk emas, perak, perunggu dan penghargaan kehormatan untuk juara keempat.

Dari 11 tim pemenang, tim mahasiswa dari Indonesia dan Singapura berjalan pergi dengan medali perunggu dan penghargaan kehormatan masing-masing. Secara keseluruhan, Green Game Jam for Youth melihat kiriman dari lebih dari 200 mahasiswa dan tim universitas di seluruh dunia.

Sebagai kontribusi penting bagi upaya global United Nations Environmental Program (UNEP) — yang Playing for the Planet Alliance (P4P), Green Game for Youth challenge meminta tim yang berpartisipasi mengirimkan permainan yang mereka bangun, menampilkan elemen yang difokus lingkungan hidup.

Mewakili Institut Teknologi Bandung (ITB), tim BlueCat dari Indonesia menciptakan permainan ponsel yang bernama “Clogged Sink Fishing,” yang berfokus untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pengurangan limbah, sambil mempromosikan daur ulang.

“Kami berharap untuk mendidik masyarakat lebih lanjut tentang kesadaran konservasi laut dan pengurangan limbah. Kompetisi ini telah memungkinkan kita untuk mengembangkan keterampilan kita untuk tujuan yang baik, dan telah menjadi pengalaman belajar yang besar bagi kita sebagai mahasiswa Desain Komunikasi Visual di bidang game design,” kata ketua tim BlueCat, Nasrullah.

Team Traveller, seorang peserta individu dari Nanyang Technological University (NTU) di Singapura, menciptakan permainan yang bertujuan untuk menginspirasi dan menciptakan kesadaran pada isu-isu perubahan iklim yang mendesak. Permainan itu menjadi target para remaja zaman sekarang untuk menginspirasi mereka mengambil tindakan.

“Saya memutuskan untuk menggunakan teknologi Virtual Reality (VR) untuk game saya yang asli, Traveller VR, untuk mengangkut para pemain ke dunia maya. Dalam dunia yang tenggelam ini, mereka mampu melakukan perjalanan ke tempat-tempat yang terdampak bencana iklim dan menyaksikan efek perubahan iklim secara autentik,” kata ketua developer, Zhen Wei Lee. “Saya percaya kita semua memiliki bagian dalam mempromosikan kesadaran iklim dan mendorong aksi iklim.”

Proposal menjalani proses peninjauan kembali yang ketat dengan standar global. Keseluruhan 11 tim pemenang memiliki hadiah grup sebesar USD21,500 dan setiap anggota tim akan diberikan sertifikat. Tim BlueCat, yang memenangkan medali perunggu, membawa pulang sebesar USD1,000. Sementara Team Traveller membawa pulang USD500 untuk penghargaan kehormatannya.

Selain dua tim pemenang yang mewakili SEA, tiga tim lainnya berhasil mencapai babak final dan menerima tanda penghargaan dan sertifikat partisipasi.

Ini termasuk tim Wolf Pack dari Indonesia yang mewakili Universitas Indonesia (UI) dan merancang permainan yang menggambarkan kisah hutan suci yang terakhir di dunia pasca-kiamat di mana para pemain membantu memulihkan hutan.

Dua tim dari Nanyang Technotech University (NTU) singapura juga ditetapkan untuk babak final. Tim 200 Success menciptakan permainan asli yang disebut Seastoration Tower, yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran tentang konservasi satwa liar laut. Finalis lainnya, Ahkshara Sankar menciptakan Forest Warrior, sebuah permainan yang mengatasi masalah deforestasi.

Bagaimana menurut Warga Duniawi? Beritahu kami pendapat kalian dikolom komentar dibawah ya. Sambil menunggu berita terbaru selanjutnya, kalian bisa membaca beberapa artikel lainnya.

Sumber: https://sea.ign.com

Tinggalkan Balasan

You don't have permission to register
%d blogger menyukai ini: